Posted by: lamido | December 28, 2010

Peranan dan Fungsi Keluarga Terhadap Perilaku Menyimpang

By: La Mido

Sejalan dengan hal ini, maka tidak sedikit manusia terjerumus dalam gejala the agony of modernization. The agony of modernization merupakan suatu bentuk ketegangan psikososial yang menjadi penyakit (azab sengsara yang menggerogoti mental) manusia dalam memerankan peran dalam kehidupan sosial, seperti meningkatnya kriminalitas, kemaksiatan, tindak kekerasan, perkosaan, prostitusi, gangguan jiwa, bunuh diri, dan sebagainya. Refleksi psikososial ini disebabkan oleh semakin modernnya suatu masyarakat, maka semakin bertambahnya intensitas dan eksistensitas dari berbagai disorganisasi dan disintegrasi sosial dalam realitas.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menyebabkan sejumlah perubahan dan perkembangan di berbagai lini kehidupan masyarakat, baik pola pikir, cara pandang, gaya hidup, sistem berkomunikasi, aplikasi interaksi, model bergaul, dan sebagainya. Demikian pula dengan kondisi tatanan kehidupan masyarakat telah bergeser dari sistem tradisional ke sistem modern. Melirik kondisi realitas yang semakin hari semakin berubah, maka tak seorang dapat menahan lajunya arus perkembangan globalisasi dan modernisasi dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Menyikapi realitas yang terus berubah, maka kondisi manusia tak ubah bagaikan buah simalakama; maju kena mundur kena atau serba salah. Di sisi lain, upaya yang dapat dilakukan manusia terhadap kemajuan demi kemajuan zaman ini adalah dengan cara menyaring atau memfilterisasi segala macam suguhan dunia modern agar tidak terlena, terbawa arus dan salah kaprah. Bagi generasi tua, problema globalisasi dan modernisasi bukan persoalan mendasar lagi, karena mereka telah cukup merasakan bagaimana sulit mudah, getir pahit, asam garam dan tawar manisnya kehidupan yang mereka lalui. Namun, bagi generasi muda; mulai dari anak usia sekolah dasar, remaja awal, remaja, remaja akhir, dewasa muda hingga dewasa masalah kemajuan IPTEK, globalisasi atau modernisasi adalah problem karena mereka hidup di alam modern.

Sejalan dengan hal ini, maka tidak sedikit manusia terjerumus dalam gejala the agony of modernization. The agony of modernization merupakan suatu bentuk ketegangan psikososial yang menjadi penyakit (azab sengsara yang menggerogoti mental) manusia dalam memerankan peran dalam kehidupan sosial, seperti meningkatnya kriminalitas, kemaksiatan, tindak kekerasan, perkosaan, prostitusi, gangguan jiwa, bunuh diri, dan sebagainya. Refleksi psikososial ini disebabkan oleh semakin modernnya suatu masyarakat, maka semakin bertambahnya intensitas dan eksistensitas dari berbagai disorganisasi dan disintegrasi sosial dalam realitas. Kebenaran-kebenaran abadi sebagaimana yang terkandung dalam ajaran agama, pola hidup dan konsepsi masyarakat telah bergeser dan disishkan, sehingga orang berpegang pada kebutuhan materi dan tujuan sesaat. Dalam masyarakat modern rongrongan terhadap agama, moralitas, budi pekerti, warisan budaya lama dan tradisional telah menimbulkan ketidakpastian konsep berperilaku dibidang hukum, moral, norma, nilai dan etika kehidupan. Karena itu dapat dikatakan bahwa kebanyakan perilaku manusia dalam dunia modern sering tidak beraturan dan sering bertentangan dengan nilai anutan masyarakat. Karena itu, secara psikologi bisa diklasifikasikan dan diidentisifikasikan sebagai kondisi yang menyangkut hubungan antar manusia, karena di hampir setiap lingkungan akan ada orang lain dalam kehidupan manusia.

Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah sosial terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma social yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. Penggunaan konsep perilaku menyimpang secara tersirat mengandung makna bahwa ada jalur baku yang harus ditempuh. Perilaku yang tidak melalui jalur tersebut berarti telah menyimpang.

Untuk mengetahui latar belakang perilaku menyimpang perlu membedakan adanya perilaku menyimpang yang tidak disengaja dan yang disengaja, diantaranya karena si pelaku kurang memahami aturan-aturan yang ada. Sedangkan perilaku yang menyimpang yang disengaja, bukan karena si pelaku tidak mengetahui aturan. Hal yang relevan untuk memahami bentuk perilaku tersebut, adalah mengapa seseorang melakukan penyimpangan, sedangkan ia tahu apa yang dilakukan melanggar aturan. Becker (dalam Soerjono Soekanto,1988,26), mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk mengasumsikan hanya mereka yang menyimpang mempunyai dorongan untuk berbuat demikian. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya setiap manusia pasti mengalami dorongan untuk melanggar pada situasi tertentu, tetapi mengapa pada kebanyakan orang tidak menjadi kenyataan yang berwujud penyimpangan, sebab orang dianggap normal biasanya dapat menahan diri dari dorongan-dorongan untuk menyimpang.

Masalah sosial perilaku menyimpang dalam “Kenakalan Remaja” bisa melalui pendekatan individual dan pendekatan sistem. Dalam pendekatan individual melalui pandangan sosialisasi. Berdasarkan pandangan sosialisasi, perilaku akan diidentifikasi sebagai masalah sosial apabila ia tidak berhasil dalam melewati belajar sosial (sosialisasi). Tentang perilaku disorder di kalangan anak dan remaja (Kauffman , 1989 : 6) mengemukakan bahwa perilaku menyimpang juga dapat dilihat sebagai perwujudan dari konteks sosial. Perilaku disorder tidak dapat dilihat secara sederhana sebagai tindakan yang tidak layak, melainkan lebih dari itu harus dilihat sebagai hasil interaksi dari transaksi yang tidak benar antara seseorang dengan lingkungan sosialnya. Ketidak berhasilan belajar sosial atau “kesalahan” dalam berinteraksi dari transaksi sosial tersebut dapat termanifestasikan dalam beberapa hal. Proses sosialisasi terjadi dalam kehidupan sehari-hari melalui interaksi sosial dengan menggunakan media atau lingkungan sosial tertentu.

Berdasarkan hasil beberapa penelitian ditemukan bahwa salah satu faktor penyebab timbulnya kenakalan remaja adalah tidak berfungsinya orangtua sebagai figur tauladan bagi anak. Selain itu suasana keluarga yang meninbulkan rasa tidak aman dan tidak menyenangkan serta hubungan keluarga yang kurang baik dapat menimbulkan bahaya psikologis bagi setiap usia terutama pada masa remaja. Orangtua dari remaja nakal cenderung memiliki aspirasi yang minim mengenai anak-anaknya, menghindari keterlibatan keluarga dan kurangnya bimbingan orangtua terhadap remaja. Sebaliknya, suasana keluarga yang menimbulkan rasa aman dan menyenangkan akan menumbuhkan kepribadian yang wajar dan begitu pula sebaliknya.

Kenakalan remaja merupakan salah satu dari sekian banyak masalah sosial yang semakin merebak pada waktu sekarang ini. Masalah sosial sering dikaitkan dengan masalah perilaku menyimpang dan bahkan pelanggaran hukum atau tindak kejahatan. Upaya rehabilitasi dianggap lebih tepat untuk mengatasi masalah kenakalan remaja. Hal ini karena remaja adalah generasi penerus yang masih memungkinkan potensi sumberdaya manusianya berkembang, sehingga pada saatnya akan menggantikan generasi sebelumnya menjadi pemimpin-pemimpin bangsa.

Pada saat ini semakin berkembang bentuk penyimpangan perilaku yang dilakukan remaja. Kenakalan remaja tidak hanya berbentuk bolos sekolah, mencuri kecil-kecilan, tidak patuh pada orang tua, tetapi mengarah pada tindakan kriminal, seperti perkelahian masal antar pelajar (tawuran) yang menyebabkan kematian, perkosaan, pembunuhan dan lain-lain. Di Amerika Serikat hampir lebih dari 40 % orang-orang yang melakukan kejahatan serius adalah anak-anak remaja nakal. Ditemukan setiap harinya 2500 anak lahir di luar pernikahan, 700 anak lahir dengan berat badan rendah, 135.000 anak membawa senjata tajam ke sekolah, 7.700 anak umur belasan melakukan kegiatan seksual aktif, 600 anak umur belasan mengidap syphilis atau gonorhoe, dan 6 anak umur belasan memutuskan untuk bunuh diri (Horn, 1991). Di Indonesia tercatat pada Direktorat Bimbingan Masyarakat POLRI, bahwa pada tahun 1994 menangkap 1.261 pelaku perkelahian antar pelajar dan pada tahun 1998 data ini telah meningkat  menjadi 18.946 pelaku yang ditangkap (Justika, 1999).

Maka dari beberapa penjabaran diatas, penulis memandang perlu untuk membahas pentingnya kenakalan remaja sebagai perilaku menyimpang hubunganya dengan peranan dan fungsi keluarga.

1.2  Rumusan masalah

Dari latar belakang tersebut diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah bentuk – bentuk kenakalan remaja merupakan salah satu konsep penyimpangan perilaku?
  2. Bagaimanah hubungan antara peranan dan fungsi keluarga terhadap penyimpangan perilaku (kenakalan remaja)?

 

1.3 Tujuan penulisan

  1. Menjelaskan dan mengidentifikasi bentuk – bentuk kenakalan yang       dilakukan remaja sebagai penyimpangan perilaku.
  2. Untuk mengetahui hubungan antara peranan dan fungsi keluarga terhadap kenakalan remaja sebagai perilaku menyimpang.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Konsep perilaku menyimpang

Perilaku menyimpang merupakan salah satu problema psikologis, yakni refleksi proses penyesuaian diri manusia dalam kehidupan sosialnya. Karenanya, tidak ada suatu definisi yang bisa dijadikan patokan khusus dari suatu disiplin dengan kriteria tunggal. Sesuai dengan analisis ini, maka istilah perilaku menyimpang sering disejajarkan dengan ’masalah-masalah sosial’ atau ’patalogi sosial’ yang menunjuk pada tinjauan suatu kondisi tertentu dan latar belakang si peninjaunya. Mengenai anggap ini, Cohen (Sadli, 1977: 33), mengatakan bahwa memang tidak ada konsensus dan juga tidak ada istilah perilaku menyimpang, seringkali berhubungan dengan aturan normatif yang dianut dan dimiliki oleh sipenilai pada saat kejadian. Namun berbagi interpretasi mengenai perilaku menyimpang perlu dipahami secara ilmiah; konsep,konsensus, definisi dan sebagainya sehingga terlihat ciri-ciri perilaku tersebut yang berbeda dengan sejumlah tampilan perilaku manusia. Oleh karena itu, sesuai dengan penjelasan Cohen, salah seorang pakar ilmu-ilmu sosial Amerika, maka definisi umum tentang perilaku menyimpang adalah tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma sosial. Perilaku menyimpang juga dapat diartikan sebagai kelakuan atau keadaan yang diperankan seseorang yang pada umumnya tidak diinginkan oleh masyarakat (disvalued). Cohen (Sadli, 1977:35), membatasi perilaku menyimpang sebagai tingkah laku yang melanggar, bertentangan dan menyimpang dari aturan-aturan normatif, dari pengertian-pengertian yang normatif maupun dari harapan-harapan lingkungan sosial yang bersangkutan. Dalam analisis Sarwono (1994: 63), secara keseluruhan semua tingkah laku yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku dalam masyarakat (norma agama, etika, peraturan sekolah dan keluarga dan lain-lain) merupakan perilaku menyimpang. Hawari (1997:56), melihat perilaku menyimpang sebagai gambaran dari kepribadian seseorang yang antisosial atau terjadi gangguan tingkah laku yang ditandai dengan tiga atau lebih kriteria gejala, seperti; sering mabuk, melakukan seks di luar nikah, seringkali mencuri, merusak barang orang lain, sering melakukan tawuran, dan sebagainya. Menurut Kartono (2005: 15), perilaku menyimpang dapat dipahami sebagai perilaku yang abnormal, karena tingkah laku yang diperankan itu tidak adekuat, tidak bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya dan tidak sesuai dengan norma sosial yang ada. Dengan batasan ini, kemudian Kartono (2005:16), menjelaskan dua aspek yang mendasari perilaku menyimpang, yaitu (1) aspek lahiriah yang bisa diamati dengan jelas, seperti kata-kata makian, tidak senonoh, cabul atau kata-kata kotor lainnya; dan (2) aspek simbolik yang tersembunyi, seperti; sikap dalam hidup, emosi, sentimen, itikad tidak baik, motif kejahatan tertentu, dan sebagainya.

Dalam banyak kasus, modus operandi perilaku menyimpang yang terdeteksi dalam realitas tampil dalam berbagai dimensi, motif dan wajah. Selain itu, tingkah laku ini juga dapat terjadi di mana saja, kapan saja dan terhadap siapa saja dalam kehidupan. Praktik perilaku menyimpang dalam wujud internal individu biasanya digerakkan oleh misalnya; persoalan kesehatan, konsep diri, merasa keterasingan, terkontaminasi dengan beragam keinginan atau hayalan individu yang ingin diwujudkan, pengalaman hidup atau beragam tekanan dalam kehidupan dapat berpengaruh pada perilaku seseorang, dan lain-lain. Sedangkan, lakon perilaku menyimpang dari aspek eksternal bermunculan akibat; ketidak-akuratan informasi dari berinteraksi sosial, pengaruh media massa, atau keadaan dan situasi sosial ekonomi ikut memberi andil kepada orang sehingga melenceng dari aturan berperilau yang sebenarnya, dan sebagainya. Dari penjelasan ini, dapat dipahami bahwa perilaku menyimpang identik dengan perbuatan, tindakan atau aktivitas anti sosial, melanggar etika, norma atau nilai-nilai yang dianut masyarakat. Perilaku menyimpang merupakan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma atau nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan sosial; baik nilai atau norma yang berorientasi pada ajaran agama maupun aturan berperilaku yang dibuat negara. Akar perilaku menyimpang berkaitan erat dengan kebermaknaan proses penyaluran hasrat oleh individu dalam berinterkasi dengan orang lain dan lingkungan sekitar. Tingkah laku menyimpang dalam operasionalnya dapat terjadi dalam berbagai motif, seperti perampokan, pelecehan seksual, perkataan kotor, terror, perzinahan dan sebagainya. Dalam bahasa berbeda, perilaku menyimpang didorong dan dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal manusia, sehingga perilaku ini bisa tampak dalam wujud lahiriah yang jelas, dan ada pula yang bersifat simbolik dengan berbagai motif dan nuansa.

Secara umum, siswa-siswa yang mengatakan atau melakukan sesuatu yang pada pokoknya mengganggu atau merugikan orang lain maupun dirinya sendiri sering dideskripsikan sebagai manisfestasi dari penyimpangan perilaku. Istilah penyimpanagn perilaku sering digunakan secara bergantian merujuk pada istilah gangguan emosional (emotional disturbance) dan ketidakmampuan penyesuaian diri (maladjusment) dengan berbagai bentuk variasinya. Hal ini dapat dicermati melalui gejala perilaku atau peristiwa siswa dikelas, situasi bermain, kemampuan berkomunikasih atau interaksi sosial; agresik fisik, ancaman, perilaku destruktif, tindakan yang tidak sesuai dengan norma –norma; kelambatan dalam prestasi dan keterampilan akademik; perasaan takut, rasah bersalah dan expresi verbal lainnya. Anak dan remaja yang mengalami penyimpanagan perilaku mungkin akan menunjukan sebagian saja dari gejala penyimpanagan perilaku – perilaku itu atau bersifat lebih komleks.

Ada beberapa sudut tinjauan mengenai faktor penyebab perilaku menyimpang. Menurut tinjauan secara biologis, retardasi mental adalah penyimpangan perilaku yang semata – mata disebabkan oleh faktor biologis, termasuk faktor gen dan unsur kimiawi fisik. Psikodinamik memandang konflik emosional yang berhubungan dengan kepuasan mengenai dorongan instintif yang menimbulkan frustasi.

Gangguan emosional yang serius menunjukan salah satu atau lebih karakteristik berikut ini: (a) ketidakmampuan belajar yang tidak dapat dijelaskan oleh faktor intelektual, sensori atau kesehatan, (b) ketidakmampuan mengembangkan hubungan interpersonal dengan teman sebaya atau guru – guru di sekolah. (c) ketidaktepatan perilaku atau perasaan senantiasa dalam keadaan terganggu (feeling under normal circumtances), (d) kecenderungan menegembangkan simptom – simptom fisik, lelah, dan ketidakmampuan penyesuaian diri.

Berdasarkan orientasi kebutuhan pendidikan khusus, maka penyimpangan perilaku didefinisikan sebagai perilaku yang menunjukan karakteristik: (a) membutuhkan guru yang mempunyai kemampuan khusus atau berbeda dengan standar normalitas, (b) gangguan fungsional terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Karakteristik perilaku tersebut dimanifestasikan sebagai konflik lingkungan dan atau gangguan perilaku.

 

2.2. Faktor – Faktor Penyebab Penyimpangan Perilaku

Secara garis besar, faktor – faktor penyebab penyimpangan perilaku dapat diklasifikasikan atas dua kategori, yaitu: (a) kondisi biologis (hereditas, kerusakan otak, dan diet), dan (b) kondisi psikologis.

A.  Kondisi Biologis

  1. Faktor  hereditas. Hasil – hasil penelitian mengungkapkan bahwa karakteristik anak dapat dipengaruhi oleh faktor genetik yang bersifat bawaan dari orangtua. Kerusakan kromoson juga dapat menjadi penyebab masalah perilaku dan fisik yang serius. Penelitian eksperimen juga telah didesain mengenai efek nature dan nurture pada penyesuaian diri. Hasilnya menunjukan bahwa faktor hereditas memberikan kontribusi terhadap penyimpangan perilaku (Lahey & Ciminero, 1980).
  2. Keusakan otak (brain disoder). Kerusakan otak dapat terjadi sebelum kelahiran, maupun setelah kelahiran. Kerusakan otak meliputi kerusakan struktural, disfungsi otak. Hubungan antara kerusakan otak dan perilaku menyimpang telah banyak diteliti. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (a) penyimpangan perilaku serius, khususnya infantile autism, berhubungan dengan kerusakan otak (brain disoder), (b) hiperaktivitas, disebabkan oleh berbagai faktor, salah satu diantara faktor – faktor itu adalah karena kerusakan otak, (c) tidak semua perilaku menyimpang disebabkan oleh kerusakan otak, bahkan ada yang mengalami gangguan otak belum tentu mengalami perilaku menyimpang.
  3. Diet atau keadaan nutrisi. Hasil penelitian lahey & Ciminero (1980), menunjukan bahwa kekurangan nutrisi tidak hanya menyebabkan terjadinya retardasi fisik dan mental, tetapi juga menjadi penyebab terjadinya perilaku menyimpang. Pauling (1969) menjelaskan bahwa kekurangan vitamin dan makanan bergizi dapat menyebabkan hiperaktivitas.

B.  Kondisi Psikologis

Kondisi psikologi dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan perilaku. Kondisi – kondisi tersebut dapat bersumber dari lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat atau faktor yang bersumber dari individu sendiri seperti stress. Beberapa faktor penyebab perilaku menyimpang yang bersumber dari lingkungan keluarga seperti perceraian orang tua, ketidakhadiran orang tua, konflik orang tua, penyimpangan perilaku orang tua (psikotik, antisosial, sikap bermusuhan, penyalahgunaan obat, sikap tidak konsisten).

Kauffman (1981) menjelaskan bahwa faktor sekolah dapat menjadi sumber penyimpangan perilaku siswa. Misalnya pihak sekolah/guru tidak peka terhadap kebutuhan individual siswa, kegiatan sekolah yang tidak sesuai dengan harapan siswa, ketidaktepatan sikap guru dalam pengelolaan pengajaran dan tugas – tugas yang tidak relevan dengan kebutuhan siswa.

Stress merujuk pada situasi dimana seseorang mengalami kesenjangan antara kebutuhan dan tuntutan lingkungan. Faktor fisiologis, sosial maupun psikologis merupakan sumber stress yang berdampak negatif seperti frustasi, kehilangan sesuatu yang dicintai, disebut stressor.

Interaksi kondisi biologis dan psikologis merupakan faktor yang lebih kompleks sebagai penyebab perilaku menyimpang. Penelitian mengungkapkan bahwa kondisi biologis sebelum kelahiran menentukan perkembangan perilaku dan tempramen termasuk fungsi – fungsi biologis, intensitas suasana hati yang negatif, dan kesulitan beradaptasi dengan situasi baru.

 

2.3.  Klasifikasi Perilaku Menyimpang

Klasifikasi perilaku menyimpang dapat dibedakan berdsarkan tinjauan secara klinik dan statistik. Sistem klinik didasarkan pada aspek medis dan psikodinamik tentang kategori perilaku menyimpang. Perilaku menyimpang menurut kategori DSM – III, meliputi: (a) retardasi mental, (b) defisit perhatian, (c) gangguan perilaku nyata, (d) kecemasan, (e) nervosa anoreksia, (f) autism, (g) penyimpanagan perkembangan spesifik.

  1. Karakteristik kategori

Secara umum, pengenalan karakteristik siswa yang mengalami penyimpangan perilaku termasuk pola – pola perilaku mereka akan sangat membantu guru – guru dan orang lain untuk mengenali lebih jauh tentang penyimpanga perilaku. Cepat atau lambat, guru – guru akan dihadapkan pada persoalan ketidakmampuan penyesuaian diri secara fungsional dengan berbagai kategori deviasi yang dialami individu yang mengalami penyimpangan – penyimpangan perilaku. Oleh karena itu, penelitian dan observasi dari guru – guru tentang problem perilaku khusus yang menunjukan karakteristik individu itu merupakan faktor penting yang memerlukan keterampilan khusus.

Secara umum, karakteristik itu dapat dikategorikan atas: (a) konflik terhadap lingkungan, (b) gangguan peribadi, dan (c) ketidakmampuan belajar. Penyimpangan – penyimpangan perilaku tersebut , meliputi, kategori ringan, sedang, dan berat.

  1. Konflik lingkungan. Konflik terhadap lingkungan meliputi kategori yaitu: (a) perilaku agresif (b) hiperaktivitas, dan (c) ketidalmampuan penyesuaian sosial. Agresif didefenisikan sebagai perilaku yang berdampak negatif terhadap orang lain yang menjadi objek perilaku. Perilaku agresif menimbulkan dampak yang bersifat merusak (destruktif), perasaan terganggu, sikap bermusuhan, serta dampak negatif lainnya. Perilaku agresif mencangkup: kebencian/kekejaman, ancaman, sikap menentang, kemarahan, teriakan histeris, ketidakpatuhan, sikap bermusuhan, dan tidak respect terhadap lingkungan. Bahkan agresif – destruktif dengan kategori yang berat ditandai dengan kecenderungan melukai diri sendiri, perilaku negatif, dan bentuk – bentuk tindakan menyerang lainnya, sehingga guru – guru diharapkan lebih peka terhadap perilaku agresif dari pada penyimpangan perilaku lainnya.

Selanjutnya, hiperaktif adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mengalami aktifitas yang berlebihan (overactivity), seperti: gerakan yang menunjukan rasa gelisah/resah, defisit perhatian atau ketidakmampuan memusatkan perhatian terhadap tugas – tugas, kekacauan pikiran dalam menghadapi suatu tugas, impulsifitas (mengganggu danmencampuri urusan orang lain), tergeas- gesa dan mengalami kesulitan dalam proses pengambilan keputusan. Perilaku agresif hiperaktif diidentifikasi sebagai penyimpangan perilaku. Sekalipun demikian, perilaku agresif, ketidakmampuan belajar, disfungsi otak, tidak selalu dibarengi dengan perilaku hiperaktifitas. Prevalensi hiperaktifitas menurut hasil identifikasi Bosco & Robin (dalam Thalib, 2002) sekitar 1- 5 % anak usia sekolah dengan perbandingan antara anak laki – laki dan perempuan sekitar 4:1 hingga 7 : 1. Anak yang hiperaktif menunjukan gejala peningkatan gangguan penyesuaian diri pada usia remaja.

  1. Gangguan pribadi. Personal disturbance digolongkan atas dua jenis kategori untuk gangguan pribadi, yaitu anxiety dan social withdrawal
  2. Kecemasan

Siswa – siswa yang mengalami gangguan kecemasan menjadi sulit untuk melakukan diskusi di kelas, senantiasa diliputi rasah gelisah/ gugup dalam mempresetasikan tugas dikelas, kurang percaya diri dalam berbagai perilaku social dan perilaku nyata di sekolah. Anak dan remaja yang anxiety senantiasa mengantisipasi situasi seolah – olah dalam keadaan bahaya, merasa mengalami gangguan fisik, pikirannya kacau, dan menjauhkan diri dari situasi yang tidak sesuai dengan harapannaya.

Sekitar 4% anak laki – laki dan perempuan usia 5 – 7 tahun didiagnosis sebagai klien yang mengalami reaksi kecemasan (Rosen, Bahn & Krammer, 1964). Perbandingan antara laki – laki dan perempuan relatif sama, tetapi pada remaja akhir lebih banyak perempuan yang anxiety.

  1. Social withdrawal. Karakteristik siswa yang mengalami gangguan menarik diri secara social ditandai dengan minimnya mereka melibatkan diri dalam aktifitas social terutama dalam kelompok sebaya. Juga sulit untuk bekerja sama dalam aktifitas sekolah, kurang komunikatif, pemalu, pemurung, dan tidak bersemangat. GreenWood, walker, & Hops (dalam Thalib, 2002) menjelaskan bahwa ada dua tipe social withdrawal, yaitu noninteraction dan rejection. Noninteracsi menunjukan ciri – ciri kurang berkembangnya keterampilan social dan kesulitan berinteraksi dengan orang lain. Selanjutnya, rejeksi lebih menunjukan sikap agresif dan mengabaikan teman kelompoknya. Sekitar 15 % direferal untuk memperoleh terapi. Fakta – fakta menunjukan bahwa social withdrwal jika memperoleh kesempatan latihan keterampilan social dikelas maupun aktifitas belajar secara informal, maka social withdrawal kategori ringan dan sedang tidak menjadi prediktor gangguan penyesuain diri di kemudian hari.

 

2.4  Pendekatan studi perilaku menyimpang

Orientasi akademis tentang perilaku menyimpang diwacanakan para sarjana sejak dibentuknya American Social Science Association (ASSA) pada tahun 1865 di Amerika Serikat. Organisasi ini mengintrodusir sejumlah mata pelajaran agar isi pembahasannya berkaitan dengan problem-problem sosial, yang dikenal dengan perilaku menyimpang. Asosiasi tersebut juga menjadikan topik perilaku menyimpang sebagai subjek akademis di perguruan tinggi, khususnya dalam disiplin sosiologi. Berawal dari analisis di atas, maka para ahli sosiologi berusaha menyusun sejumlah pengertian perilaku menyimpang sesuai dengan karakteristik peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sosial. Dalam perkembangannya, masalah perilaku menyimpang dapat ditelusuri melalui berbagai pendekatan, seperti; pandangan biologis, patologis, konsepsi analitis, teori anomie atau reaksi sosial, dan sebagainya. Karenanya, dari analisis masing-masing pendekatan kajian tersebut diketahui beragam karakteristik, tujuan, motif dan gejala perilaku menyimpang hingga peranan menyimpang. Agar lebih terfokus, maka di bawah ini dijelaskan secara rinci sejumlah pendekatan dalam memperlajari perilaku menyimpang sehingga dipahami gelaja dan orientasinya secara signifikan.

  1. Pendekatan biologis dan patologis

Asumsi dasar padangan biologis dan patologis adalah bahwa ada sesuatu di dalam diri manusia yang berperilaku menyimpang yang membedakan pelaku dari mereka yang tidak bertingkah laku menyimpang. Anggapan ini dipopulerkan oleh Lombroso dan Sheldon yang menganggap penjahat (criminals) sebagai orang-orang yang mempunyai kelainan atau kekhususan biologis. Namun pandangan ini masih mengandung banyak pertanyaan di kalangan sosiolog dan psikolog sosial, dengan argumen bahwa orang sadar dan orang tidak sadar harus dibedakan. Orang sadar yang melakukan perbuatan antisosial dapat diistilahkan dengan perilaku menyimpang, sedangkan orang tidak sadar (psikopat) agak aneh bila dimasukkan dalam kelompok perilaku menyimpang.

  1. Pendekatan konsepsi analitis

Menurut konsepsi analitis, perbuatan-perbuatan menyimpang sebagai tindakan yang mengancam kehidupan bermasyarakat. Dengan terjadinya pergeseran dari konsep biologis kepada konsepsi analitis, maka akan terjadilah pergeseran analisa dari pihak yang melakukan perilaku menyimpang kepada sasaran tindakannya dapat menjadi kegamangan di dalam masyarakat.Yang menjadi fokus perhatian dalam konsepsi analitis adalah mengadakan analisa mengenai ciri-ciri khas dari berbagai tindakan tertentu yang melanggar aturan normatif, seperti perilaku homoseksual, prostitusi, kenakalan remaja, memaki-maki orang, dan sebagainya.

  1. Pendekatan teori anomie

Perilaku konform dan perilaku menyimpang yang terjadi dalam kehidupan sosial dijelaskan dengan adanya struktur sosial yang kaku dan bobrok dan telah menghambat kelompok-kelompok individu tertentu dalam mencapai tujuan kulturil. Situasi yang demikian akan memicu ketegangan psikologis dalam diri individu anggota masyarakat secara berkelanjutan sehingga menimbulkan apa yang disebut dengan anomie. Menurut teori ini, perilaku menyimpang yang terjadi dalam masyarakat disebabkan oleh situasi diskontinutas dalam suatu masyarakat atau terjadinya kevakuman tetentu yang menghambat proses berpikir anggota masyarakat sehingga menimbulkan ketegangan dalam sistem struktur sosial.

  1. Pendekatan reaksi sosial

Pendekatan ini pada hakikatnya menentang pandangan konsepsi biologi dan analitis. Kedua konsep tersebut melihat gejala penyimpangan perilaku disebabkan oleh faktor-faktor instrinsik dalam diri si pelaku atau dalam perbuatan-perbuatan tertentu. Menurut pendekatan reaksi sosial, perilaku menyimpang terjadi karena adanya pengaruh dari luar individu, apakah situasi, objek atau pranata sosial yang tidak terakomodir pada sebagian anggota masyarakat sehingga menimbulkan suatu reaksi tertentu yang diidentifiksikan sebagai tingkah laku menyimpang. Pendekatan reaksi sosial lebih mementingkan latar belakang sosial pelakunya, yakni proses dasar terjadinya perilaku menyimpang merupakan akibat elaborasi dan kompleksitas persoalan yang dihadapi individu anggota masyarakat sehingga dinilai sebagai sesuatu yang menyimpang ketika orang yang bersangkutan bertindak atau berbuat.

 

2.5  Norma – Norma Sosial, Lingkungan dan Perilaku Menyimpang

Diskusi mengenai perilaku menyimpang akan menjadi rancu bila tidak menyinggung masalah norma-norma sosial, karena dalam menetapkan atau mengukur perilaku menyimpang, maka eksistensi norma-norma sosial menjadi tolok ukur terhadap kelakuan atau tindakan tertentu. Sumner (Sadli, 1977:61) menyatakan bahwa the mores can make anything right. Bersumber pada pernyataan ini, maka kajian terhadap perilaku manusia dapat dintentukan pula sesuatu perbuatan yang “tidak baik” atau menyimpang” dari norma-norma sosial. Norma-norma sosial merupakan apa yang harus dan dilarang di dalam suatu masyarakat atau kebudayaan tertentu. Yang menajdi soal, kebanyakan orang tidak senantiasa sadar akan fungsi dari norma-norma sosial, atau bahkan seringkali mengabaikan norma sosial dalam kehidupannya ketika berhadapan dengan situasi tertentu, sehingga muncul apa yang dinamakan kelakuan menyimpang. Karena itu, jelas bahwa perilaku menyimpang selalu ditetapkan sebagai sesuatu yang normatif, sehingga penjelasan perilaku menyimpang secara langsung atau tidak langsung menyagkut aspek-aspek norma sosial. Di dalam setiap masyarakat, norma-norma sosial biasanya terpusat ada kegiatan-kegiatan sehari-hari yang bermakna bagi setiap anggota masyarakat. Norma-norma sosial yang terpusat ini sering disebut sebagai pranata sosial. Di sisi lain, wacana norma sosial juga dapat ditilik dalam pranata sosial lainnya, seperti pendidikan, agama, politik, hukum, dan kegiatan yang mengatur persoalan ekonomi. Dalam psikologi terkait dengan norma sosial dibahas oleh teori nilai yang dipresentasikan oleh Edward Spranger dalam naskah yang diberi judul “Types of Men” pada tahun 1928. Dalam pandangan Spranger, makna manusia terletak dari sistem nilai yang dimilikinya. Dengan demikian, nilai-nilai yang ada pada manusia selalu mengarahkan tingkahlaku, pikirannya dan kemauan-kemauannya dalam realitas sosial. Karena itu, dalam kerangka lingkungan, Spranger membedakan atas 6 bagian nilai, yaitu nilai politik atau kekuasaan, ekonomi, sosial, teoritis atau ilmiah, estetis dan religius (Sadli, 1977:66). Merujuk Spranger, maka bila dikaitkan dengan perilaku menyimpang yang muncul saban harinya dalam realitas sosial tidak terlepas dari sejauhmana pemahaman terhadap nilai-nilai yang ada. Jika pemahaman terhadap nilai-nilai stabil, maka kondisi perilaku yang tampilpun biasanya sesuai dengan harapan-harapan sosial. Namun bila pengertian terhadap nilai-nilai yang tidak beraturan dan overacting, maka gejala perilaku menyimpang akan bersemi bagaikan jamur dimusim hujan. Oleh karena itu keberadaan norma-norma yang dianut suatu masyarakat menjadi penting diinternalisasikan dan diadopsikan oleh individu dalam kerangka sosial agar praktik perilaku menyimpang dapat diminimalisasikan sedemikian rupa sehingga terciptanya suatu gambaran masyarakat yang berbudaya, beretika, beradap dan bermartabat dalam kehidupan. Di pihak lain, proses pembelajaran dan sosialisasi dalam wujud perilaku yang mulia perlu ditampilkan oleh generasi tua.

Bila ditilik dari segi analisis pendidikan, maka kehadiran perilaku menyimpang pada diri seseorang boleh jadi dipengaruhi oleh model proses belajar yang diterima, diserap dan dicerna seseorang dari berbagi ranah pembelajaran, seperti keluarga, sekolah dan masyarakat. Hasil interaksi orang dengan lingkungan beserta isinya akan memberi pengetahuan bagi orang yang bersangkutan. Apa yang dipelajari individu dari ketiga domain menjadi input pendidikan tersebut menjadi key word dalam proses pengaplikasian peran dan perilaku dalam realitas sosial seseorang. Karenanya bagaimana keadaan lingkungan begitulah tumbuh berkembang perilaku seseorang. Bila lingkungan baik, maka baiklah keadaan perilaku orang (sesuai norma yang berlaku), namun bila sebaliknya keadaan pranata sosial, kebiasaan-kebiasan dan aturan-aturan yang berlaku sering diabaikan dan tidak diindahkan dalam suatu masyarakat, maka kondisi tampilan perilaku orang dalam realitas juga sesuai dengan lingkungan yang melingkupinya.

2.6  Analisis Kesehatan Mental Terhadap Perilaku Menyimpang

Pemahaman kesehatan mental dalam kehidupan sehari-hari diartikan sebagai keadaan yang stabil jiwa (tidak resah, tidak mengalami tekanan, seimbang atau tidak berat sebelah). Bila kondisi jiwa tidak serasi, maka keadaan ini yang dinamakan dengan tidak sehat mental, sehingga perilaku yang diperankanpun menjadi amburadul sehingga merugikan diri sendiri dan orang lain. Cara-cara menyeimbangkan diri akibat dampak kondisi dan situasi tersebut, ada pada manusia yang mengenainya, baik bersifat biologik, psikologik atau sosiologik sesuai dengan gejala ketidak seimbangan yang dialami manusia. Kondisi ini bisa dirasakan oleh siapa saja dalam kehidupan sehari-hari. pandangan ilmu kedokteran jiwa, kesehatan mental adalah suatu kondisi dimana memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang, dan perkembangan kesehatan jiwa ini berjalan selaras dengan keadaan orang lain (Hawari, 1996:12).

Gelaja keseimbangan tidaknya mental manusia digerakkan oleh proses interaksi manusia dengan lingkungan sekitar beragam dampak mengenai diri manusia sehingga menimbulkan bermacam ketidak seimbangan. Karena itu, makna kesehatan mental/jiwa mempunyai sifat-sifat yang harmonis (serasi) dan memperhatikan semua segi-segi dalam penghidupan manusia, dan dalam hubungannya dengan manusia lain. Dalam kehidupan sosial, beragam wujud perilaku yang bisa diamati kemudian dapat diinterpretasikan, diidentifikasikan, dikategorikan atau diklarifikasikan; mana-nama yang disimpulkan sebagai bentuk jiwa yang sehat meskipun orangnya secara klinis perlu perawatan medis (sakit fisik) dan jiwa yang sakit walaupun secara kasat mata orang sehat wal-afiat. Hal ini berorientasi pada kondisi manusia dalam perkembangannya yang mengalami berbagai persoalan yang harus diatasi dan diperjuangkan untuk hidupnya. Bila suatu persoalan belum dapat dipecahkan akan menjadi tekanan bagi jiwanya, bahkan mengganggu keseimbangan mentalnya. Jikalau mendapat pemecahan masalah yang sehat, maka akan membawa keseimbangan mental kembali, tanpa tekanan dan memberi kepuasan baginya. Namun, andaikata tidak memperoleh proses penyelesaian yang sehat, akan menjadi gangguan yang berlarut bagi keseimbangan mentalnya, bahkan menjadi kesukaran dalam proses kehidupannya.Sehubungan dengan kondisi perilaku manusia yang beragam itu, maka para ahli kesehatan mental berusaha menjelaskan kriteria untuk menggolongkan orang yang dalam keadaan mental sehat, antara lain; (1) memiliki pandangan sehat terhadap kenyataan (diri dan lingkungan sekitar), (2) kemampuan menyesuaikan diri pada segala kemungkinan, dan kemampuan mengatasi persoalan, (3) dapat mencapai kepuasan pribadi dan ketenangan hidup tanpa merugikan orang lain (Meichati, 1969:15).

Untuk mengantisipasi perilaku menyimpang dan kesehatan mental, paling tidak secara empiris dapat ditangani melalui tiga (3) pendekatan metodologis, yaitu: (1) usaha pencegahan (preventif), (2) usaha penyembuhan/perbaikan (rehabilitatif), dan (3) usaha pemeliharaan (preservatif) (Rahayu, 1994: 112). Kegiatan preventif merupakan usaha menciptakan suasana yang sehat untuk mengembangkan diri, baik secara fisik, psikis, sosial maupun agamis. Aktivitas ini dapat menjadi landasan dalam rangka mengurangi, mencegah dan menghilangkan sebab-sebab perilaku menyimpang yang menjadi kebiasaan buruk dan mengakibatkan gangguan kesehatan mental. Sedangkan aktivitas rehabilitatif merupakan usaha terapi atau memberi pengobatan dalam berbagai wacana; agama, konseling, pendidikan atau latihan-latihan untuk mengembalikan kepercayaan diri, kestabilan jiwa dan menghentikan gerakan perilaku buruk. Kemudian usaha preservatif adalah kegiatan memotivasi, menyemangati dan mengembangkan kondisi aktualisasi diri sehingga kondisi yang sudah stabil, baik dan sehat dapat terjaga selamanya dalam kehidupan. Model pendekatan ini perlu bantuan orang-orang terpercaya sehingga rasa optimisme dan rasa percaya diri terus berkembang tanpa mengingat kembali perilaku buruk.

 

2.7  Peranan dan Fungsi Keluarga Dalam Pembentukan Kepribadian Anak

Pengertian keluarga berarti nuclear family yaitu yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Ayah dan ibu secara ideal tidak terpisah tetapi bahu membahu dalam melaksanakan tanggung jawab sebagai orang tua dan mampu memenuhi tugas sebagai pendidik. Tiap eksponen mempunyai fungsi tertentu. Dalam mencapai tujuan keluarga tergantung dari kesediaan individu menolong mencapai tujuan bersama dan bila tercapai maka semua anggota mengenyam ” Apakah peranan masing-masing “.

-          Peranan Ayah:

1.  Sumber kekuasaan, dasar identifikasi.

2.  Penghubung dengan dunia luar.

3.  Pelindung terhadap ancaman dari luar.

4.  Pendidik segi rasional.

-    Peranan Ibu:

1.  Pemberi aman dan sumber kasih sayang.

2.  Tempat mencurahkan isi hati.

3.  Pengatur kehidupan rumah tangga.

4.  Pembimbing kehidupan rumah tangga.

5.  Pendidikan segi emosional

6.  Penyimpan tradisi

-     Peranan Anak laki – laki dan Wanita

Sebagaimana telah diuraikan diatas bahwa keluarga pada hakekatnya merupakan wadah pembentukan masing-masing anggotanya, terutama anak-anak

yang masih berada dalam bimbingan tanggung jawab orang tuanya. Dasar pemikiran dan pertimbangannya adalah sebagai berikut :

a)                  Keluarga adalah tempat perkembangan awal seorang anak, sejak saat kelahirannya sampai proses perkembangan jasmani dan rohani berikutnya. Bagi seorang anak, keluarga memiliki arti dan fungsi yang vital bagi kelangsungan hidup maupun dalam menemukan makna dan tujuan hidupnya.

b)                 Untuk mencapai perkembangannya seorang anak membutuhkan kasih sayang, perhatian dan rasa aman untuk berlindung dari orang tuanya. Tanpa sentuhan manusiawi itu anak akan merasa terancam dan penuh rasa takut.

c)      Keluarga merupakan dunia keakraban seorang anak. Sebab dalam keluargalah dia mengalami pertama-tama mengalami hubungan dengan manusia dan memperoleh representasi dari dunia sekelilingnya. Pengalaman hubungan dengan keluarga semakin diperkuat dalam proses pertumbuhan sehingga melalui pengalaman makin mengakrabkan seorang anak dengan lingkungan keluarga. Keluarga menjadi dunia dalam batin anak dan keluarga bukan menjadi suatu realitas diluar seorang anak akan tetapi menjadi bagian kehidupan pribadinya sendiri. Anak akan menemukan arti dan fungsinya.

d)            Dalam keluarga seorang dipertalikan dengan hubungan batin yang satu dengan   lainnya. Hubungan itu tidak tergantikan Arti seorang ibu tidak dapat dengan tibatiba  digantikan dengan orang lain.

e)                  Keluarga dibutuhkan seorang anak untuk mendorong, menggali, mempelajari dan menghayati nilai-nilai kemanusiaan, religiusitas, norma-norma dan sebagainya. Nilai-nilai luhur tersebut dibutuhkan sesuai dengan martabat kemanusiaannya dalam penyempumaan diri.

f)               Pengenalan didalam keluarga memungkinkan seorang anak untuk mengenal dunia sekelilingnya jauh lebih baik. Hubungan diluar keluarga dimungkinkan efektifitasnya karena pengalamannya dalam keluarga

g)                  Keluarga merupakan tempat pemupukan dan pendidikan untuk hidup bermasyarakat dan bernegara agar mampu berdedikasi dalam tugas dan kewajiban dan tanggung jawabnya sehingga keluarga menjadi tempat pembentukan otonom diri yang memiliki prinsip-prinsip kehidupan tanpa mudah dibelokkan oleh arus godaan.

h)                  Keluarga menjadi fungsi terpercaya untuk saling membagikan beban masalah, mendiskusikan pokok-pokok masalah, mematangkan segi emosional, mendapatkan dukungan spritual dan sebagainya.

i)                    Dalarn keluarga dapat terealisasi makna kebersamaan, solidaritas, cinta kasih, pengertian, rasa hormat menghormati clan rasa merniliki.

j)                    Keluarga menjadi pengayoman dalam beristirahat, berekreasi, menyalurkan kreatifitas dan sebagainya. Pengalaman dalam interaksi sosial pada keluarga akan turut menentukan pola tingkah lakunya terhadap orang lain dalam pergaulan diluar keluarganya. Bila interksi sosial didalarn kelompok karena beberapa sebab tidak lancar kemungkinan besar interaksi sosialnya dengan masyarakat pada umumnya juga akan berlangsung dengan tidak wajar.

Keluarga mempunyai peranan dalam proses sosialisasi dernikian pentingnya peranan keluarga maka disebutkan bahwa kondisi yang menyebabkan peran keluarga dalam proses sosialisasi anak adalah sebagai berikut :

  1. Keluarga merupakan kelompok terkecil yang anggotanya berinteraksi to face secara tetap, dalam kelompok demikian perkembangan anak dapat diikuti dengan sesama oleh orang tuanya dan penyesuaian secara pribadi dalam hubungan sosial lebih mudah terjadi.
  2. Orang tua mempunyai motivasi yang kuat untuk mendidik anak karena anak erupakan cinta kasih hubungan suami istri. Motivasi yang kuat melahirkan hubungan emosional antara orangtua dan anak.
  3. Karena hubungan sosial dalam keluarga itu bersifat relatif tetap maka orangtua memainkan peranan sangat penting terhadap proses sosialisasi anak.

 

2.8  Pengaruh Keluarga Terhadap Kenakalan Remaja

Pengaruh keluarga dalam kenakalan remaja adalah:

  1. Keluarga yang Broken Home.

Masa remaja adalah masa yang diamana seorang sedang mengalami saat kritis sebab ia mau menginjak ke masa dewasa. Remaja berada dalam masa peralihan. Dalam masa peralihan itu pula remaja sedang mencari identitasnya. Dalam proses perkembangan yang serba sulit dan masa-masa membingungkan dirinya, remaja membutuhkan pengertian dan bantuan dari orang yang dicintai dan dekat dengannya terutama orang tua atau keluarganya. Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa fungsi keluarga adalah memberi pengayoman sehingga menjamin rasa aman maka dalam masa kritisnya remaja sungguh-sungguh membutuhkan realisasi fungsi tersebut. Sebab dalam masa yang kritis seseorang kehilangan pegangan yang memadai dan pedoman hidupnya. Masa kritis diwarnai oleh konflik-konflik internal, pemikiran kritis, perasaan mudah tersinggung, cita-cita dan kemauan yang tinggi tetapi sukar ia kerjakan sehingga ia frustasi dan sebaginya. masalah keluarga yang broken home bukan menjadi masalah baru tetapi merupakan masalah yang utama dari akar-akar kehidupan seorang anak.

Keluarga merupakan dunia keakraban dan diikat oleh tali batin, sehingga menjadi bagian yang vital dari kehidupannya.

Penyebab timbulnya keluarga yang broken home antara lain:

  1. Orang tua yang bercerai

Perceraian menunjukkan suatu kenyataan dari kehidupan suami istri yang tidak lagi dijiwai oleh rasa kasih sayang dasar-dasar perkawinan yang telah terbina bersama telah goyah dan tidak mampu menompang keutuhan kehidupan keluarga yang harmonis. Dengan demikian hubungan suami istri antara suami istri tersebut makin lama makin renggang, masing-masing atau salah satu membuat jarak sedemikian rupa sehingga komunikasi terputus sama sekali. Hubungan itu menunjukan situas keterasingan dan keterpisahan yang makin melebar dan menjauh ke dalam dunianya sendiri. jadi ada pergeseran arti dan fungsi sehingga masing-masing merasa serba asing tanpa ada rasa kebertautan yang intim lagi.

  1. Kebudayaan bisu dalam keluarga

Kebudayaan bisu ditandai oleh tidak adanya komunikasi dan dialog antar anggota keluarga. Problem yang muncul dalam kebudayaan bisu tersebut justru terjadi dalam komunitas yang saling mengenal dan diikat oleh tali batin. Problem tersebut tidak akan bertambah berat jika kebudayaan bisu terjadi diantara orang yang tidak saling mengenal dan dalam situasi yang perjumpaan yang sifatnya sementara saja. Keluarga yang tanpa dialog dan komunikasi akan menumpukkan rasa frustasi dan rasa jengkel dalam jiwa anak-anak. Bila orang tua tidak memberikan kesempatan dialog dan komunikasi dalam arti yang sungguh yaitu bukan basa basi atau sekedar bicara pada hal-hal yang perlu atau penting saja; anak-anak tidak mungkin

mau mempercayakan masalah-masalahnya dan membuka diri. Mereka lebih baik berdiam diri saja. Situasi kebudayaan bisu ini akan mampu mematikan kehidupan itu sendiri dan pada sisi yang sama dialog mempunyai peranan yang sangat penting.

Kenakalan remaja dapat berakar pada kurangnya dialog dalam masa kanak-kanak dan masa berikutnya, karena orangtua terlalu menyibukkan diri sedangkan kebutuhan yang lebih mendasar yaitu cinta kasih diabaikan. Akibatnya anak menjadi terlantar dalam kesendirian dan kebisuannya. Ternyata perhatian orangtua dengan memberikan kesenangan materiil belum mampu menyentuh kemanusiaan anak. Dialog tidak dapat digantikan kedudukannya dengan benda mahal dan bagus. Menggantikannya berarti melemparkan anak ke dalam sekumpulan benda mati.

  1. Pendidikan yang salah
  1. Sikap memanjakan anak

Keluarga mempunyai peranan di dalam pertumbuhan dan perkembangan pribadi seorang anak. Sebab keluarga merupakan lingkungan pertama dari tempat kehadirannya dan mempunyai fungsi untuk menerima, merawat dan mendidik seorang anak. Jelaslah keluarga menjadi tempat pendidikan pertama yang dibutuhkan seorang anak. Dan cara bagaimana pendidikan itu diberikan akan menentukan. Sebab pendidikan itu pula pada prinsipnya adalah untuk meletakkan dasar dan arah bagi seorang anak. Pendidikan yang baik akan mengembangkan kedewasaan pribadi anak tersebut. Anak itu menjadi seorang yang mandiri, penuh tangung jawab terhadap tugas dan kewajibannya, menghormati sesama manusia dan hidup sesuai martabat dan citranya. Sebaliknya pendidikan yang salah dapat membawa akibat yang tidak baik bagi perkembangan pribadi anak. Salah satu pendidikan yang salah adalah memanjakan anak.

 

  1. Anak tidak diberikan pendidikan agama

Hal ini dapat terjadi bila orang tua tidak meberikan pendidikan agama atau mencarikan guru agama di rumah atau orang tua mau memberikan pendidikan agama dan mencarikan guru agama tetapi anak tidak mau mengikuti. Bagi anak yang tidak dapat/mengikuti pendidikan agama akan cenderung untuk tidak mematuhi ajaran-ajaran agama. Seseorang yang tidak patuh pada ajaran agama mudah terjerumus pada perbuatan keji dan mungkar jika ada faktor yang mempengaruhi seperti perbuatan kenakalan remaja.

  1. Anak yang ditolak

Penolakan anak biasanya dilakukan oleh suami istri yang kurang dewasa secara psikis. Misalkan mereka mengharapkan lahirnya anak laki-laki tetapi memperoleh anak perempuan. Sering pula disebabkan oleh rasa tidak senang dengan anak pungut atau anak dari saudara yang menumpang di rumah mereka. Faktor lain karena anaknya lahir dengan keadaan cacat sehingga dihinggapi rasa malu. Anak-anak yang ditolak akan merasa diabaikan, terhina dan malu sehingga mereka mudah sekali mengembangkan pola penyesalan, kebencian, dan agresif.

Keluarga merupakan institusi dasar yang sangat besar perannya dalam membentuk karakter anggota keluarga terutama anak sejak dini melalui proses pengasuhan serta contoh teladan sehingga terjadi kontrol sosial dalam sistem sosial dimana keluarga berada sebagai bentuk ketahanan keluarga. Dalam setiap masyarakat, keluarga adalah suatu struktur kelembagaan yang berkembang melalui upaya masyarakat untuk menyelesaiakan tugas-tugas tertentu, tugas-tugas tersebut dilakukan dalam 7 fungsi- keluarga yang dikemukakan oleh Horton dan Hunt berikut ini :

  1. Fungsi Pengaturan Seksual : Keluarga adalah lembaga pokok yang merupakan wahana bagi masyarakat untuk mengatur dan mengorganisasi kan kepuasan keinginan seksual.
  1. Fungsi Reproduksi : Untuk urusan “memproduksi” anak setiap masyarakat terutama tergantung pada keluarga.
  2. Fungsi Sosialisasi : Semua masyarakat tergantung terutama pada keluarga bagi sosialisasi anak-anak ke dalam alam dewasa yang dapat berfungsi dengan baik di dalam masyarakat itu.
  3. Fungsi Afeksi : Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan akan kasih saying atau rasa dicintai. Dan hal ini dapat diterima di keluarga.
  4. Fungsi Penentuan Status : Dalam memasuki sebuah keluarga, seseorang mewarisi suatu rangkaian status, keluarga juga berfungsi sebagai dasar untuk memberi beberapa status sosial, seperti seorang kulit putih, kulit hitam, kaya dan miskin, dll.
  1. Fungsi Perlindungan : Dalam setiap masyarakat, keluarga memberikan perlindungan fisik, ekonomis dan psikologis bagi seluruh anggotanya.
  2. Fungsi Ekonomi : Keluarga merupakan unit ekonomi dasar dalam sebagian besar masyarakat primitif, para anggota keluarga bekerja sama sebagai tim untuk menghasilkan sesuatu.

Unit keluarga adalah sekelompok individu-individu yang satu sama lain dihubungkan baik oleh darah, maupun oleh institusi seperti perkawinan. Didalam kelompok tersebut biasanya terdapat pembagian wewenang (otoritas), hak tanggung jawab, serta peran-peran ekonomi dan seks. Definisi keluarga mungkin berbeda antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya, yang menimbulkan perbedaan pula dalam standar perilakunya. Unit Nuclear Family terdiri atas ayah, ibu, dan anak-anak mereka, dan Extended Family, terdiri atas orang tua, anak-anak, kakek-nenek, bibi, paman dan lain-lain yang tinggal bersama. Pada extended family, orang tua mempertahankan otoritas atas perkawinan diantara sepupu dilarang. Pada nuclear family unit keluarga tidak tergantung, perkawinan antar sepupu dianggap normal. Nuclear family adalah tipe keluarga yang menonjol dalam masyarakat industri, sedangkan extended family banyak ditemukan pada kultur masyarakat agraris.

Menurut W. Kornblum (1989), dewasa ini keluarga mengalami perubahan-perubahan dari extended family menjadi nuclear family, dan single earner menjadi dual earner, dari agraris ke industri dan teknologi. Bahkan definisi keluargapun berubah dari kumpulan orang-orang yang didasarkan pada hubungan darah atau perkawinan menjadi atas dasar companionship (kesepakatan atau komitmen) saja, seperti yang dilakukan oleh para kaum homo seksual di Amerika Serikat. Bila perubahan-perubahan ini tidak menimbulkan akibat negatif pada fungsi utama keluarga, yaitu memelihara dan membesarkan anak, mungkin bukan masalah. Akan tetapi, bila terjadi sebaliknya maka itu adalah sebuah masalah.

Semua keluarga secara kontinyu berubah, sebab mereka harus secara konstan menyesuaikan diri dengan siklus perkembangan keluarga, dimana peran-peran dari semua anggota keluarga berubah. Misalnya, sebagian besar keluarga melampaui tahap-tahap pra nikah, membesarkan anak, kesepian, dan pensiun. Selama dalam tahap dan pada masa transisi ke tahap yang lain, keluarga menghadapi tantangan untuk mempertahankan stabilitas atau kontinuitas, sehingga berfungsi secara memadai. Menurut Glasser dan Glasser (1965) ada lima kriteria keluarga berfungsi memadai, yaitu :

  1. Konsistensi peranan internal di antara anggota keluarga
  2. Konsistensi peran-peran dan norma-norma keluarga, serta penampilan peran aktual.
  3. Penyesuaian peran-peran dan norma-norma keluarga dengan norma-norma masyarakat.
  4. Kemampuan memenuhi kebutuhan-kebutuhan psikologis anggota-anggota keluarga.
  5. Kemampuan keluarga dalam merespons perubahan-perubahan.

 

Kegagalan melaksanakan fungsi-fungsi ini dapat menimbulkan masalah-masalah dalam keluarga. Kegagalan tersebut biasanya tanpa sengaja dan mengakibatkan krisis internal dan eksternal. Krisis eksternal berasal dari luar, misalnya orang tua menganggur karena terkena PHK. Ini dapat mengakibatkan orang tua kehilangan harga diri dan otoritas, dan semua anggota akan takut dan cemas karena tidak adanya jaminan ekonomi. Krisis internal muncul dalam keluarga sebagai akibat, misalnya salah seorang anak mengalami mental disorder, ketidaksetiaan perkawinan dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

P E N U T U P

3.1 Kesimpulan

Perilaku menyimpang merupakan perilaku yang bertentangan dengan kebiasaan-kebiasaan, aturan-aturan atau pandangan masyarakat. Perilaku menyimpang dalam realitas biasanya teridentifikasi tidak saja diperankan oleh remaja, akan tetapi juga diperankan oleh orang dewasa dan orang tua. Kasus-kasus korupsi, suap, mencaci maki orang, memfitnah orang, mengejek orang, saling menjatuhkan, mencuri, kriminal, teror, pre-seks atau prostitusi adalah contoh-contoh perilaku menyimpang. Keadaan perilaku menyimpang dapat terjadi pada siapa saja, kapan saja atau dimana saja tanpa jadwal waktu. Dalam perspektif kesehatan mental (mental hygiene), pelaku perilaku menyimpang dikategorikan ke dalam orang-orang yang tidak sehat mental, karena kondisi keseimbangan jiwa pelaku resah, susah atau penuh tekanan sehingga tidak mampu berpikir jernih, tidak pernah merasa puas dalam hidupnya, tidak mampu melakukan penyesuaian diri, tidak mampu menerima kekalahan, dan sebagainya. dalam rangka usaha pembenahan kesehatan mental dan perilaku menyimpang, hal yang paling krusial adalah adanya niat, usaha dan aksi pelaku untuk berubah dan mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik. Keadaan ini dapat dilakukan melalui pendekatan; preventif, rehabilitatif dan preservatif.

. Kenakalan remaja dapat difahami melalui lima model pendekatan, yaitu model konstitusional, yang memahami remaja dari perkembangan fisiologis dan biologis; model krisis identitas untuk memahami kesulitan remaja dalam menemukan jati dirinya; model kebutuhan yang memahami remaja dari kondisi pemenuhan kebutuhan dasar manusia; model belajar sosial untuk memahami bagaimana perilaku remaja sebagai hasil belajar dari lingkungannya; dan model stress untuk memahami bagaimana kemampuan remaja dalam mengatasi stress (coping ability). Keluarga, bagaimanapun merupakan sumber terjadinya masalah kenakalan remaja, akan tetapi keluarga juga merupakan sumber untuk mencegah dan mengatasi kenakalan remaja.

3.2 Saran

Menurut teori Durkheim kenakalan remaja disebabkan ketidak berfungsian sebuah organisasi yang dalam hal ini adalah organisasi keluarga, untuk itu solusi yang diambil yaitu memfungsikan kembali organisasi itu atau keluarga untuk mencegah tingkat kenakalan remaja tersebut.

Berdasarkan kenyataan itu pula dapat diambil solusi untuk memperkecil tingkat kenakalan remaja ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu meningkatkan keberfungsian sosial keluarga melalui program-program kesejahteraan sosial yang berorientasi pada keluarga dan pembangunan social yang programnya sangat berguna bagi pengembangan masyarakat secara keseluruhan Di samping itu untuk memperkecil perilaku menyimpang remaja dengan memberikan program-program untuk mengisi waktu luang, dengan meningkatkan program di tiap karang taruna. Program ini terutama diarahkan pada peningkatan sumber daya manusianya yaitu program pelatihan yang mampu bersaing dalam pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Responses

  1. mengatahui lebi luas tentang fungsi perilaku menyimpang

  2. Good article

  3. kok ga ada asal bahannya?? tp bermanfaat bangetz

  4. bagus banget :)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: